Inti berita ini adalah:
- Pendapatan IBM pada kuartal ini berada di bawah ekspektasi Wall Street meskipun menghasilkan total pendapatan sebesar $17,2 miliar (sekitar Rp307.931 miliar) dengan laba bersih mencapai $2,2 miliar (sekitar Rp39.386 miliar).
- Penurunan laba dan pendapatan tersebut dipicu oleh merosotnya bisnis mainframe perusahaan sebesar 42 persen pada periode ini.
- CEO Arvind Krishna menyatakan bahwa penurunan ini bersifat sementara karena pelanggan mengalihkan anggaran untuk menghadapi lonjakan harga perangkat keras pusat data lainnya.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, IBM resmi mengumumkan laporan keuangan kuartalannya pada hari Rabu lalu di tengah ekspektasi pasar yang rendah. Perusahaan teknologi berusia 115 tahun tersebut mencatatkan pendapatan sebesar $17,2 miliar (sekitar Rp307.931 miliar) dengan laba kotor $9,9 miliar (sekitar Rp177.239 miliar), marjin hampir 58 persen, serta laba bersih $2,2 miliar (sekitar Rp39.386 miliar). Meskipun menghasilkan arus kas yang besar, hasil tersebut gagal memenuhi ekspektasi Wall Street dan memicu penurunan nilai saham terbesar dalam sejarah perusahaan.
Kinerja Keuangan dan Penurunan Mainframe
Sebelum pengumuman resmi, CEO IBM Arvind Krishna bersama jajaran direksi mengambil langkah peringatan dini kepada para investor. Sebuah surat kepada investor diterbitkan pekan sebelumnya untuk membagikan hasil awal yang menunjukkan lemahnya kategori infrastruktur serta penurunan marjin laba. Akibat pengumuman tersebut, saham perusahaan langsung merosot 25 persen dalam satu hari yang merupakan penurunan harian terbesar sepanjang sejarah kepemimpinan Krishna.
Pada hari Rabu, IBM secara resmi menurunkan proyeksi pertumbuhan setahun penuh karena dampak buruk dari kuartal ini. Penyebab utama penurunan tersebut adalah bisnis mainframe yang menjadi andalan perusahaan mengalami kejatuhan sebesar 42 persen. Penurunan ini menciptakan masalah beruntun karena CFO Jim Kavanaugh menjelaskan bahwa IBM memperoleh pendapatan perangkat lunak sebesar $3 (sekitar Rp53.709) untuk setiap $1 (sekitar Rp17.903) perangkat keras mainframe yang terjual.
Dampak Lonjakan Biaya Pusat Data AI
Pimpinan IBM menegaskan bahwa penurunan penjualan mainframe ini merupakan kendala sementara yang akan segera pulih. Fenomena yang terjadi adalah puluhan pelanggan yang dijadwalkan membeli mainframe baru pada kuartal tersebut memutuskan untuk menunda pembelian. Walaupun jumlah pelanggannya terlihat sedikit, mainframe merupakan sistem bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar yang menghasilkan kontrak pemeliharaan serta perangkat lunak bernilai jauh lebih besar.
Ledakan teknologi kecerdasan buatan turut memengaruhi keputusan anggaran para klien perusahaan. Alih-alih membeli mainframe baru, para pelanggan mengalihkan anggaran untuk membeli perangkat keras lain akibat lonjakan biaya yang sangat tinggi sebesar 15 hingga 30 persen untuk perangkat pusat data dan PC. Kenaikan harga komponen memori akibat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan turut memaksa produsen perangkat keras perusahaan seperti Dell, HP, dan Apple menaikkan harga jual mereka.
Prospek Masa Depan Bisnis Mainframe
| Metrik Keuangan | Nilai Finansial USD | Estimasi Nilai Rupiah |
|---|---|---|
| Total Pendapatan Kuartal | $17,2 miliar | Sekitar Rp307.931 miliar |
| Laba Kotor | $9,9 miliar | Sekitar Rp177.239 miliar |
| Laba Bersih | $2,2 miliar | Sekitar Rp39.386 miliar |
Arvind Krishna berjanji bahwa para pelanggan tersebut tetap akan membeli mainframe baru beserta kontrak perangkat lunak mereka pada masa mendatang. Bahkan, beberapa klien dilaporkan telah melakukan pembelian tersebut pada kuartal berjalan saat ini. Pihak manajemen menegaskan bahwa mereka tidak menemukan adanya indikasi klien yang meninggalkan sistem mainframe.
Industri teknologi telah lama memprediksi kemunduran sistem mainframe selama beberapa dekade terakhir. Kendati demikian, pihak manajemen meyakini bahwa teknologi kecerdasan buatan tidak akan mengakhiri keberadaan infrastruktur inti tersebut. Perkembangan lanjutan dari pemulihan penjualan ini masih harus dipantau melalui laporan kinerja kuartal berikutnya.
Sumber Referensi: TechCrunch – After shocking quarter, IBM insists that AI isn’t killing the mainframe
Tim Redaksi: Redaksi DomainJava
Penulis: Mafatihatul Maziyyah





