Substack Luncurkan Fitur Deteksi AI untuk Identifikasi Penulis Newsletter

Inti berita ini adalah:

  • Substack mengintegrasikan perangkat lunak deteksi AI bernama Pangram ke dalam aplikasinya minggu ini.
  • Fitur ini memungkinkan pengguna memindai postingan, komentar, dan balasan untuk melihat estimasi konten buatan manusia atau AI.
  • CEO Substack Chris Best menyatakan bahwa perangkat ini bukan untuk melarang AI, melainkan mendorong transparansi proses pembuatan konten.

Substack resmi meluncurkan fitur pemindai kecerdasan buatan (AI) baru pada minggu ini untuk mendeteksi apakah sebuah newsletter ditulis oleh manusia atau mesin. Integrasi perangkat lunak deteksi AI bernama Pangram ini memungkinkan pengguna aplikasi Substack untuk memindai postingan, komentar, serta balasan guna melihat estimasi proporsi teks yang dihasilkan oleh AI.

Langkah ini diambil platform penulisan independen tersebut untuk menghadapi maraknya penggunaan teknologi AI dalam pembuatan konten digital. Kendati demikian, pihak perusahaan menegaskan bahwa fitur ini tidak bertujuan untuk melarang ataupun mengenakan penalti bagi penggunaan tulisan yang dibantu oleh AI.

Dampak Jangka Pendek dan Panjang

Dalam jangka pendek, kehadiran fitur deteksi ini berpotensi menimbulkan risiko bagi ekosistem bisnis Substack. Pemindaian tersebut dapat mengekspos berbagai newsletter yang tidak sepenuhnya ditulis oleh manusia, sehingga dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan pembaca serta merusak reputasi platform sebagai rumah bagi konten berkualitas tinggi.

Namun, dalam jangka panjang, fitur deteksi AI ini diyakini mampu menjaga platform dari paparan konten otomatis berkualitas rendah atau yang sering disebut sebagai AI slop. Langkah ini dirancang untuk mendorong kepercayaan pengguna terhadap keaslian tulisan atau memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai proses di balik sebuah konten.

Tanggapan Pimpinan Substack

CEO Substack, Chris Best, menilai bahwa fitur ini merupakan pemanfaatan teknologi yang tepat guna bagi para kreator di platformnya. Menurutnya, inti dari sebuah karya tulis adalah ide orisinal yang sulit dan bernilai tinggi.

Dalam diskusi daring bersama pendiri Pangram, Max Spero, Best menjelaskan bahwa perangkat lunak seharusnya mengerjakan bagian lain, sementara bagian tersulit tetap harus dikerjakan oleh manusia.

Berikut adalah perincian fitur deteksi AI yang diterapkan pada aplikasi Substack:

  • Batasan Karakter: Fitur pemindaian tersedia untuk postingan, catatan, balasan, atau komentar dengan panjang di atas 100 karakter.
  • Catatan Penulis: Penulis dapat menyertakan catatan opsional untuk mengungkapkan penggunaan AI dalam proses kreatif mereka.
  • Pernyataan Proses: Alat ini mendorong kreator untuk membuat pernyataan mengenai bagaimana mereka menyusun karya tersebut.
  • Kontrol Mandiri: Penerbit dapat menjalankan Pangram pada draf mereka sendiri sebelum diterbitkan serta melaporkan atau menghapus hasil pindaian yang dianggap keliru.

Tren Industri dan Kebijakan Platform

Substack kini bergabung dengan sejumlah platform lain yang mulai memberikan label pada konten buatan AI seiring meningkatnya peran teknologi tersebut dalam proses kreatif. Foto dan video hasil rekayasa AI telah lebih dulu diberi label di berbagai situs media sosial, sementara layanan musik streaming mulai melabeli bahkan menjatuhkan penalti pada lagu-lagu buatan AI.

Melalui kebijakan baru ini, Substack memberikan keleluasaan bagi para penulisnya untuk menggunakan perangkat AI secara transparan tanpa harus khawatir terhadap pembatasan penulisan kreatif di masa mendatang.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini disarikan dari laporan teknologi global terkait pembaruan fitur platform Substack. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan penulisan independen ini, Anda dapat mengunjungi situs resmi Substack.

Sumber Referensi: TechCrunch

Tim Redaksi: Redaksi DomainJava

Penulis: